Thursday, February 23, 2017













uAHMAD NAUFAL IMAN B. KAMARUL ALDRIN 06DTP16F1012
uMUHAMMAD AFIF B. ZAKARIA                        06DTP16F1117
uAMAR SOFFIAN B. MOHAMAD AMIR              06DTP16F1007
uBAKHT RAHIM B. ABDUL HAKIM                      06DTP16F1114

uAHMAD SYAZWAN B. AB MAULLOD               06DTP16F1018



PENGHARGAAN

Pengenalan

 Wahyu merupakan sesuatu yang di tuangkan dengan cara cepat dari Allah
ke dalam dada Nabi-nabin-nya sebagaimana dipergunakan juga untuk lafadz Al-Qur'an yang datang secara sembunyi-sembunyi. Akan tetapi,apa sebenarnya yang dimaksud dengan wahyu, yang Allah khususkan bagi para nabi dari sekian hamba-hamba-Nya? Apakah al-Qur'an termasuk wahyu dari Allah?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, akan dibahas pada bab selanjutnya dan akan diuraikan tentang wahyu dan macam-macamnya agar kita dapat memahami tentang hakikat wahyu yang sebenarnya, karena pada dasarnya kita belum mengerti dan memahami tentang wahyu itu sendiri


 Pengertian Wahyu
Erti wahyu dari segi bahasa adalah petunjuk yang di sampaikan secara sembunyi, atau dengan kata lain wahyu tersebut menggunakan metode tersembunyi dalam penyampaiannya. Pengertian wahyu Menurut syara' wahyu adalah pemberitahuan Allah SWT kepada orang yang dipilih dari beberapa hamba-Nya mengenai beberapa petunjuk dan ilmu pengetahuan yang hendak diberitahukannya tetapi dengan cara yang tidak biasa bagi manusia, baik dengan perantaraan atau tidak dengan perantaraan.
 Lafazh "wahyu'' ini menunjukkan bahwa penyampaian berita dari Allah Swt kepada Rasulullah SAW menggunakan metode Khas. Hal itu dapat dibuktikan dengan digunakannya metode sembunyi-sembunyi, keakuratan, dan tidak memungkinkannya orang lain untuk dapat mengetahui atau bahkan untuk sekedar merasakannya.

Metode wahyu ini bukanlah satu-satunya cara yang digunakan oleh Allah Swt untuk menyampaikan kalimat-Nya kepada penutup para nabi, Muhammad saw. Akan tetapi selain itu terdapat metode-metode lain yang lebih umum sebagaimana yang pernah dijalani oleh para utusan-Nya yang lain dalam memperoleh kitab dari-Nya

    Menuurut bahasa, wahyu mempunyai beberapa arti, antara lain sebagai berikut:
     a)  Berarti ilham gharizi atau instink yang terdapat pada manusia atau binatang.   
      Contohnya, seperti kata wahyu yang terdapat firman Allah SWT:
وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحْلِ أَنِ ٱتَّخِذِى مِنَ ٱلْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ ٱلشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُون                   ,
               Artinya:    "Dan Tuhanmu telah mewahyukan (memberi instink) kepada lebah,   
          supaya membuat (sarang-sarang) di bukit-bukit, di pohon-pohon, kaydan di    
       (rumah-rumah) yang didirikan (manusia)."
  (Q.S. An-Nahl: 68)
        b) Berarti ilham fitri atau firasat yang hanya ada pada manusia dan tidak pada    
           binatang. Contohnya seperti kata wahyu
 dalam firman Allah SWT:

وَأَوْحَيْنَآ إِلَىٰٓ أُمِّ مُوسَىٰٓ أَنْ أَرْضِعِهِ                                                                                Artinya:
     "Dan kami ilhamkan (berfirasat) kepada ibu nabi musa supaya menyusui dia    
         (Musa)."  
(Q.S. Al-Qashash: 7) 
      c) Berarti tipu daya dan bisikan setan, seperti arti kata wahyu dalam firman Allah   
          SWT:
               
                                                 وَإِنَّ ٱلشَّيَٰطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰٓ أَوْلِيَآئِهِمْ لِيُجَٰدِلُوكُمْ         
          Artinya:
          "Dan sesungguhnya setan-setan itu membisikkan kepada kawan-kawan mereka     
            agar mereka membantah kalian
."  (Q.S. Al-An'am: 121)
      d) Berarti isyarat yang cepat secara rahasia, yang hanya tertuju pada Nabi/ Rasul   
           saja. Contohnya seperti arti kata wahyu dalam firman Allah SWT:
                                                         
                                                          
إِنَّآ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ كَمَآ أَوْحَيْنَآ إِلَىٰ نُوحٍ وَٱلنَّبِيِّۦنَ مِنۢ بَعْدِهِ
            Artinya:
          "Sesungguhnya kami telah memberikan wahyu kepadamu, sebagaimana kami   
            telah memberikan wahyu kepada Nabi Nuh dan nabi-nabi sesudahnya."
             (Q.S. An-Nisa: 163)
        Arti keempat inilah yang relevan dengan pengertian wahyu menurut istilah    
        dalam pembahasan disini.
Dan definisi antara keduanya sangat mirip dengan pengertian wahyu menurut kaum orientalis, yang menuduh bahwa wahyu itu hanyalah berupa angan-angan dari dalam diri Nabi sendiri. Tuduhan itu tidak tepat. Sebab wahyu itu adalah sebagaimana yang telah dijelaskan diatas. Ustadz Muhammad Abduh mendefinisikan ilham ialah intuisi yang diyakini oleh jiwa yang mendorong untuk mengikuti apa yang diminta, tanpa sadar dari mana datangnya, hal dan senang.



B. Cara Turunnya Wahyu
Dari keterangan al-Qur'an jelaslah bagi kita bahwa wahyu merupakan hubungan ghaib yang tersembunyi antara Allah Swt dan para utusan-Nya. Secara umum wahyu diturunkan, seperti yang diidentifikasikan Alqur'an:
وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُكَلِّمَهُ ٱللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِن وَرَآئِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِىَ بِإِذْنِهِۦ مَايَشَآءُ إِنَّهُۥ عَلِىٌّ حَكِيمٌ                                                                              
Artinya:
" Dan tidak ada bagi seseorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia, kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat), lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang dia kehendaki. Sesungguhnya dia maha tinggi lagi maha bijaksana".  (Q.S. Asy-Syura: 51)
Dari keterangan ayat tersebut dapatlah diketahui bahwa cara turunnya wahyu pada umumnya ada tiga cara, termasuk cara turun wahyu Al-qur'an itu adalah sebagaiberikut:
                  Pertama, dengan cara menambatkan makna isi al-Qur'an tersebut ke dalam hati Rasulullah saw, atau dengan cara menghembuskannya ke dalam jiwanya, sehingga ia merasakan sendiri bahwa apa yg diterimannya itu berasal dari Allah Swt. Cara ini sering disebut dengan cara Ra'yu ash-shalihah atau impian nyata diperolehnya dengan jalan mimpi dalam tidur, tetapi kemudian menjadi kenyataan. Contohnya, seperti impian Nabi Ibrahim AS  ketika menerima wahyu yang memerintahkan supaya menyembelih puteranya Ismail.

                  Kedua, menyampaikan wahyu kepada Rasulullah SAW dari balik tabir, yakni suara bisikan wahyu disampaikan kepada Nabi SAW dari celah-celah gemerincingya suara lonceng/bel. Jadi yang dijadikan tabir menutup pendengaran para sahabat adalah gemuruhnya bunyi lonceng, yang menghalangi telinga mereka mendengar bisikan suara wahyu ayat yang diturunkan. Tetapi telinga Nabi tetap mendengar bisikan suara wahyu itu dari tabir suara lonceng tersebut.
ان الحارث بن هشام سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله, كيف يأتيك الوحي؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أحيانا يأتيني مثل صلصلة الجرس وهو أشده علي, فيفصم عني وقد وعيت عنه ما قال.  
Sesungguhnya al-Harits bin Hisyam bertanya kepada Rasulullah SAW seraya berkata: "Wahai Rasulullah bagaimana wahyu itu datang kepadamu? Maka Rasulullah SAW menjawab, bersabda: Kadang-kadang datang kepadaku seperti gemuruhnya bunyi lonceng, dan itu yang paling berat bagiku. Maka begitu berhenti bunyi itu dariku, aku telah menguasai apa yang sudah diucapkan-Nya. 
                  Ketiga, Dengan cara melalui perantaraan malaikat Jibril AS sebagai pembawa wahyu-Nya. Hal ini sebagaimana sudah diisyaratkan oleh Alqur'an yang terdapat pada ayat 193-194 surah Asyu'ara. Jadi, malaikat Jibril membacakan wahyu ayat-ayat yang diturunkan, baik dia itu tetap dalam bentuk aslinya dalam alam rohani, dan tubuh Nabi SAW yang melepaskan diri dari bentuk tubuh jasmani menjadi bentuk rohani. Sebagaimana sabda Nabi SAW lanjutan hadits diatas:
قال: أحيانا يتمثل لي الملك رجلا فيكلمني فأعي ما يقول, قالت عائشة: ولقد رأيته ينزل عليه الوحي في اليوم الشديد البرد, فيفصم عنه وإن جبينه يتفصد عرقا (رواه البخاري)
Dan kadang-kadang malaikat menyamar kepadaku sebagai laki-laki, lalu mengajak berbicara denganku. Maka aku kuasai apa yang dikatakannya. "Aisyah lalu berkata: "Saya pernah melihat beliau menerima wahyu pada hari yang sangat dingin, tetapi begitu selesai wahyu itu dari beliau, maka bercucuranlah keringat di pelipis beliau SAW. (H.R. al-Bukhari).

Cara ini terasa berat bagi Nabi, sehingga seolah-olah beliau seperti mengigau atau pingsan, melainkan karena sedang penuh konsentrasi dalam menghadapi malaikat dalam alam rohani. Hal ini sesuai dengan keterangan Al-Qur'an:

                                                                                إِنَّا سَنُلْقِى عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا
Artinya:
  " Sesungguhnya kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat."           (Q.S. Al-Muzammil: 5

CIRI-CIRI WAHYU:
Ciri-ciri wahyu disampaikan kepada nabi dan rasul kebenarannya adalah mutlak, benar, sempurna, lengkap hukum wahyu adalah kekal tiada lagi selepas kewafatan Rasulullah SAW dapat menceritakan tentang perkara ghaib

PERINGKAT PENURUNAN WAHYU:
Peringkat penurunan wahyu dari Allah ke Loh Mahfuz yg diturunkan sekaligus Dari Loh Mahfuz ke Baitul Izzah di langit dunia juga sekaligus pada malam Lailatul Qadar Dari Baitul Izzah kepada Rasulullah beransur-ansur selama 23 tahun melalui malaikat jibril

PERANAN WAHYU:
Peranan wahyu memimpin manusia ke jalan yang benar melalui risalah Islam menyuruh manusia melaksanakan syariat Allah mendidik manusia kepada akhlak manusia membetulkan akidah manusia yang telah rosak

PERANAN WAHYU KEPADA MANUSIA
Dapat memimpin manusia ke jalan yang benar serta membimbing manusia bagi memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat. Seterusnya , menyuruh manusia melaksanakan syariatnya dalam semua aspek kehidupan dan memberitahu khabar gembira tentang balasan syurga kepada yang melakukan kebaikan dan khabar dukacita kepada golongan yang melakukan kejahatan.

KESAN DARIPADA PIMPINAN WAHYU KEPADA MANUSIA
Menyelamatkan dan menjauhkan manuisa daripada kesesatan dan azab api neraka.Seterusnya, manusia menyembah Allah dengan melaksanakan perintah dan meninggalkan laranganNya serta manusia memperoleh kesejahteraan dan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.Selain itu,manusia dapat membezakan antara perkara yang halal dengan yang haram dalam membuat sesuatu tindakan.

Peranan Wahyu Dan Akal
Islam merupakan salah satu agama yang sangat menjunjung tinggi kebebasan berpikir. Karenanya Islam maju dengan pesat. Belajar dari pengalaman Yunani, Ibnu Rushd menganggap filsafat sebagai sesuatu yang penting dalam ajaran Islam. Bahkan ia setuju kalau berpikir dianggap sebagai kewajiban dalam agama. Hanya dengan cara tersebut uamt Islam dapat mempertimbangkan tindak-tanduknya agar menjadi relevan dengan spirit yang diusung oleh al-Quran, yaitu toleransi dan anti kekerasan. Manusia dihargai karena akal budinya. Sebaliknya, manusia akan jatuh pada lubang kehinaan bilamana akal budinya digantikan dengan kebencian, kebodohan, apalagi kekerasan.

Dengan peranan akal atmosfer berijtihad akan terus membara, karena ijtihad adalah ruh untuk menghidupkan Islam secara istiqamah. Tanpa adanya ijtihad yang telah diteladankan oleh Umar ibn Khattab dan para ulama maka Islam hanya akan menjadi sebuah tontonan bukan sebuah tuntunan. Bukankah ditangan Nabi al-Quran dapat memecahkan pelbagai macam masalah, karena al-Quran sendiri bukan hanya sebatas wahyu belaka akan tetapi sebuah tuntunan agar diterjemahkan kedalam nilai-nilai yang positif. Jalaluddin as-Suyuthi melalui bukunya al-Ijtihad: Al-Radd ‘ala man Akhlada ila al-Ardli wa Jahila anna al-Ijtihad fiy Kulli ‘Ashr Fardhun. Mengatakan, hanya mereka yang fanatik saja yang akan menolak keniscayaan ijtihad. Ijtihad adalah cara yang paling efektif untuk menghidupkan rasionalisme di dalam Islam. Tidak sebagaimana di dalam ideologi kaum agamawan konservatif yang meletakan rasionalisme hanya untuk membentengi dogma. Rasionalisme dipakai untuk melakukan reinterpretasi tafsir agama yang tidak relevav dengan semangat zaman. Jika dalam skriptualisme akal mesti ditaklukan dalam kehendak-kehendak harfiah teks agama, maka dalam progresivisme Islam akal bisa bersetatus sebagai nasikh terhadap hukum-hukum yang tidak membawa kemaslahatan. Ini misalnya salah satu yang dimaksudkan dalam kaidah ushul fikih. “jawaz naskh al-nushus al-juz’iyyat bi al-maslahat” (it is possible to abbrogate the particular verses by maslahat).

Ibnu Rushd dalam bukunya Fashl al-Maqal fiyma Bayna al-Hikmati wa as-Syariati min It-Ittishal mengatakan, sekiranya ada suatu ajaran yang ternyata bertentangan dengan rasio atau akal budi (al-burhan), maka tidak ada cara lain, kecuali bahwa ajaran tersebut mesti direformasi melalui medium takwil (wa in kanat al-syari’ah nathaqat bihi, fala yakhlu dhahir al-nuthq an yakuna muwafiqan lima adda illaihi al-burhan fihi, aw mukhalifan. Fain kana muwafiqan fala qawla hunalika. Wain kana mukhalifan, thuliba hunalika ta’wiluhu (hlm. 32). (wa nahnu naqtha’u anna kulla ma adda ilahi al-burhan wa khalafahu dhahir al-syar’i, anna dzalika al-dhahir yaqbalu al-ta’wil (hlm.3). Terinspirasi ajaran Ibnu Rushd ini, saya merumuskan suatu kaidah bahwa “in khalafa al’aqlu wa al-naql quddima al-‘aql bi thariq al-takhsish wa al-bayan”. (ketika terjadi pertentangan antara pendapat akal dan bunyi harfiah teks ajaran, maka yang didahulukan adalah pertimbangan akal dengan menggunakan jalantakhsish (spesifikasi ajaran) dan bayan (penjelasan rasional).

Sebagai mahluk yang berakal, posisi manusia dalam proses pemaknaan ajaran demikian penting. Al-Nas ‘aqil wa al-nashsh ghair ‘aqil (manusia adalah yang berakal sedangkan nash sendiri tidak berakal). Manusia memiliki kewenangan mensortir partikular-partikular ajaran dalam Islam (tanqih al-nushush al-juz’iyyat). Hanya di tangan manusia yang mampu mengoptimalkan pendayagunaan akal, syari’at atau ajaran yang di wahyukan mengalami penyempurnaan demi penyempurnaan. Umar Farrukh mengungkap pandangan Ikhwan as-Shafa tentang syari’at dalam bukunya Ikhwan as-Shafa: Darsun, ‘Irdh, Tahilun (1991:32) menurut Ikhwan as-Shafa syari’at yang di wahyukan Nabi naqish. Anna al-Syari’ati al-Muhammadiyah naqishatun. Dengan pernyataan itu Ikhwan as-Shafa sebenarnya hendak berkata bahwa kesempurnaan syari’at selalu dalam proses menjadi yang terus menerus, tidak pernah berhenti, dalam hal ini akal yang mempunyai peran penting.

Dalam khazanah pemikiran Islam klasik. Ada golongan Sunni yang dominan, dengan pandangan pokok bahwa kebaikan dan kejahatan itu haruslah ditentukan oleh agama. Manusia baru akan mengetahui kebaikan dan kejahatan setelah mendapatkan pengajaran dari agama. Golongan kedua adalah Mu’tazilah yang memandang bahwa manusia dengan akalnya sendiri dapat mengetahui batas-batas kebaikan dan kejahatan, batas-batas kepantasan, jika dikatakan akal manusia dapat menentukan batas-batas tersebut, tidak berarti bahwa seluruh batas itu sudah diketahui akal dari hari pertama. Akal manusia berkembang, mengalami evolusi, dan akan makin matang. Setiap wahyu membawa suatu wawasan tertentu mengenai yang baik dan yang jahat. Wahyu dapat mengangkat derajat manusia yang lebih tinggi dan bermutu untuk dapat memahami batas-batas. Tetapi wahyu bisa memerosotkan akal manusia, manakala wahyu itu mengalami “vulgarisasi”, yaitu wahyu yang telah diinterpretasikan demi kepentingan sesaat dan duniawi. Agar wahyu itu bisa tetap eksis dan memperoleh integritasnya sebagai sumber moralitas, maka diperlukan akal yang bertanggung jawab dan penuh integritas. Wahyu itu sendiri laksana horison atau cakrawala yang tak terbatas. Hampir mustahil bagi akal manusia yang terbatas untuk menjangkau seluruh horison wahyu. Karena cakrawala wahyu yang luas itu, maka siapapun dapat mengatakan sesuatu atas nama wahyu. Jaminan wahyu dapat dipahami dengan tepat adalah integritas akal manusia itu sendiri. Akal manusia merupakan partisipan yang aktif dalam menafsirkan ide-ide ketuhanan yang terkandung di dalam wahyu. Lenyapnya Mu’tazilah mempengaruhi sikap umat Islam dalam membentuk dan menjalankan hukum Islam (fiqh), sebab dengan berkurangnya peranan akal, umat Islam lebih senang meniru atau bertaqlid pada pendapat pendahulu mereka.

Wahyu Dan Akal Sebagai Jawapan
Meskipun wahyu telah terhenti dan firman Tuhan tidak lagi turun, karena Nabi telah tiada, namun dengan akal dimensi ijtihad diharapkan mampu menjawab persoalan-persoalan yang semakin bertambah banyak. Ketika Nabi masih hidup praksis setiap masalah yang terjadi turunlah wahyu sebagai jawaban, namun sekarang wahyu telah terhenti dan sabda Nabi telah tiada, disini peranan akal difungsikan sebagai penggerak utama ijtihad.

Al-Quran secara berulang-ulang menganjurkan manusia agar menggunakan akal pikiran untuk memahami segala sesuatu yang ada disekitarnya. Di dalam al-Quran banyak kita temukan ungkapan tafakkar(berpikirlah), taffaquh (pahamilah), tadabbar (renungkanlah), dan lain sebagainya. Akal manusia mempunyai kedudukan yang sangat tinggi di dalam Islam. Bahkan para ulama menjadikan akal sebagai salah satu syarat mutlak untuk menemukan solusi bagi pelbagai persoalan yang ada, misalnya dalam proses istimbath (pengambilan) hukum, memahami ayat-ayat mutasyabihat (belum jelas maksudnya) dan sebagainya. Akal pikiran merupakan anugerah Tuhan yang sangat berharga, karena akal pikiranlah yang membedakan antara manusia dengan hewan.

Ibnu Rushd dalam bukunya yang berjudul Fashl al-Maqal fiyma Bayna al-Hikmati wa as-Syariati min It-Ittishal. Dengan sangat detail dan gamblang mengulas pentingnya memelihara kemerdekaan dalam berpikir. Menurut Ibnu Rushd, akal merupakan fitrah manusia untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, atau membedakan antara yang benar dan yang salah. Menurutnya, tidak ada kontradiksi antara akal dan ajaran Islam. Beliau meletakkan akal sebagai obor yang menerangi jalan manusia dan memberikan petunjuk untuk kemaslahatan manusia. Artinya, kemerdekaan akal manusia bukanlah sekedar untuk tujuan pragmatis dan kepentingan sesaat, melainkan dapat mewujudkan kemaslahatan dan kemanfaatan.


Ibnu Rushd menyebutkan bahwa belajar dan menggunakan akal tidak dilarang dalam agama Islam, bahkan al-Quran mengandung banyak ayat yang menghimbau agar manusia menggunakan akalnya. Dalam rangka menghindari adanya pertentangan antara akal dengan teks al-Quran, Ibnu Rushd menegaskan bahwa teks al-Quran hendaknya dipahami secara mendalam untuk membuka maksud dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Kebebasan berpikir yang dikembangkan Ibnu Rushd bertujuan untuk mengantarkan manusia kepada sikap kritis menuju pencerahan ijtihad, yakni membuka hikmah dibalik ajaran, firman, dan ciptaan-Nya. Dengan menggunakan akal, manusia dapat menyibak suatu hukum yang terkandung dibalik sebuah teks (an-nash).
Berpikir adalah konsep membaca dan menggali makna terdalam dari wahyu. Sebab makna simbolik yang terdapat di dalam sebuah teks kadangkala terbatas dalam konteks tertentu, luas dan derasnya ruang dan waktu yang menjadikan makna lafalnya terbatas dan seringkali tidak relevan dengan konteks tertentu. Penerapan akal di dalam hukum Islam telah diterapkan oleh Ibnu Rushd dalam bukunya Bidayatul Al-Mujtahid wa Nihayatul Al-Muqtashid. Ini adalah karya klasik yang paling komperhensif dan sistematik mengkaji persoalan fikih dalam perspektif perbandingan mazhab. Dalam kitab ini kita disuguhkan beragam argumentasi dan perbedaaan pendapat berbagai macam madzhab fikih Sunni atas berbagai macam masalah fikih, melainkan juga diajak untuk menyelami bagaimana suatu ketetapan hukum atas suatu masalah fikih dibentuk dan bagimana penggalian hukum (istinbath) dilakukan.

Salah satu contohnya ketika Ibnu Rushd membahas tentang cara menentukan ‘Illat (penyebab) dan maqashid (tujuan syari’at) dalm metode penggunaan qiyas, bukan saja agar mendapatkan pemahaman yang lengkap, melainkan juga agar kesimpulan hukum atas suatu masalah baru (al-furu’) yang dianalogikan dengan masalah lama (al-ashl)karena da kesamaan ‘illat ataupun maqashid dapat diaplikasikan. Begitulah Ibnu Rushd menggunakan akalnya untuk menemukan hukum yang sesuai dengan konteksnya.

Ibnu Rushd memang seorang rasionalis dan tokoh Islam yang menundukan segala sesuatu kepada pertimbangan akal. Namun ajaran agama yang diwahyukan Tuhan tetap diposisikan lebih tinggi daripada akal. Beliau bukan menggunakan akal secara liar dan bebas, hanya saja ijtihadnya terkadang melampaui ijtihad ulama-ulama lain. Ibnu Rushd menjelaskan tujuan menggunakan akal adalah untuk mencapai kemaslahatan, Islam pun tidak pernah mengabaikan akal, karena tanpa akal manusia buta dan tidak bisa mendapatkan hikmah yang terkandung dibalik suatu ajaran.

Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan yang dilandasi pada olah pikir. Dalam sejarah peradaban manapun, sejauh kebebasan berpikir dijadikan sebagai khazanah yang terus berkembang secara kreatif dan inovatif, maka peradaban tersebut akan mengalami kemajuan. Ibnu khaldun mengingatkan kita semua, bahwa ilmu dan peradaban merupakan dua sisi dalam satu koin. Keduanya tidak bisa dipisahkan, sejarah kejayaan Islam di Baghdad, Cordova, Andalusia membuktikan bahwa majunya sebuah peradaban terkait majunya ilmu pengetahuan, sebaliknya runtuhnya sebuah peradaban akibat boboroknya ilmu pengetahuan, maka dari itu umat Islam harus banyak belajar dari sejarah masa lalu. Terakhir yang ingin saya katakan adalah bahwa wahyu dan akal merupakan petunjuk hidup manusia yang tidak bisa dipisahkan, keduanya saling mengisi satu sama lain. Dalam tulisan ini saya tutup dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Nabi bersabda: Saya berkata kepada Ali, “Apakah kalian mempunyai pemahaman tentang wahyu selain yang ada dalam al-Quran dan hal-hal yang terdapat di dalam shahifah”. Lalu Ali bertanya. “Apa yang dimaksud dengan shahifah?”, Nabi menjawab, akal, memerdekakan tawanan dan seorang Muslim yang tidak membunuh orang kafir.”

Kandungan yang menjurus ke arah menghidupkan kembali ilmu agama yang bertunjangkan kepada konsep iqra’ hendaklah menjadi asas kepada pendidikan alaf baru, sekiranya masyarakat kita ingin hidup merdeka dan bebas menjalankan usaha memartabatkan agama dan bangsa mengikut acuan kita sendiri. Usaha gigih ke arah itu hendaklah dilaksanakan supaya kita terselamat daripada serangan penjajahan pemikiran dan akhlak yang dibawa oleh gelombang globalisasi dengan bersenjatakan internet dan kemajuan teknologi multimedia. Bahkan kita mestilah memanfaatkan kemajuan teknologi multimedia dan teknologi digital itu, untuk menyerang-balas serangan tersebut dengan risalah dan ajaran yang bukan matlamatnya untuk menguasai dan menghancurkan orang lain, tetapi untuk meningkat nilai-nilai hidup kemanusiaan supaya terpelihara maruah dan ke-hormatannya sebagai makhluk yang dimuliakan oleh Allah s.w.t.

KEISTIMEWAAN WAHYU AL-QURAN:
Mengandungi pelbagai ilmu pengetahuan kepada semua manusia dan merupakan rahmat kepada orang yang beriman sebagai pegangan hidup.seterusnya,tidak dapat ditandingi oleh mana-mana kitab lain dan terjamin daripada sebarang perubahan atau pemalsuan sehingga ke hari kiamat.selain itu,menjawab segala permasalahan manusia.

CARA BERSYUKUR DENGAN WAHYU:
Mengamalkan segala ajaran wahyu dalam kehidupan dan meninggalkan segala larangan wahyu.selain itu,mendalami dan mengkaji kebenaran wahyu dan menjaga kesucian wahyu.

KEPERLUAN WAHYU KEPADA MANUSIA:
Untuk membetulkan akidah manusia dan membawa manusia ke jalan yang benar dan mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.seterusnya,membetulkan ajaran agama yang telah diselewengkan dan menerangkan cara-cara melaksanakan ibadat.selanjutnya,mendidik akhlak manusia.selain itu,panduan kepada manusia dalam melaksanakan perintah Allah SWT dan mendorong akal manusia membina tamadun.

SEBAB WAHYU TELAH TERHENTI PENURUNAN NYA:
Rasulullah SAW adalah adalah rasul terakhir dan Al-quran telah lengkap dan sempurna.Selain itu,Ajaran al-quran adalah sesuai pada setiap waktu dan zaman.

WAHYU SEBAGAI SUMBER ILMU YANG AZALI:
MAKSUD AZALI: Azali merujuk kepada ilmu Allah SWT yang hakiki, tiada permulaan dan kesudahan, kekal, mutlak dan tidak terbatas kepada sesuatu tempat dan ruang

PERBUATAN YANG BERASASKAN WAHYU:
Perbuatan tersebut tidak memihak kepada golongan tertentu dan perbuatan tersebut adalah menyeluruh dan adil kepada semua pihak.selain itu,perbuatannya konsisten dan tidak berubah.


PERSOALAN YANG TIDAK MAMPU DIFIKIRKAN OLEH AKAL TANPA BIMBINGAN WAHYU:
Memikirkan hakikat ketuhanan yang sebenar dan memikirkan cara-cara beribadat yang sebenar.seterusnya,memikirkan perkara-perkara ghaib .Contohnya malaikat , jin , dan sebagainya .Selain itu,memikirkan perkara-perkara Samiyyat seperti azab kubur, syurga dan neraka dan memikirkan nilai-nilai dan akhlak murni yang sebenar.

SEBAB AKAL MANUSIA MEMERLUKAN WAHYU:
Akal manusia sentiasa terdedah kepada kesilapan dalam membuat keputusan dan kemanpuan akal adalah terhad dan hanya mampu memikirkan perkara zahir sahaja.selain itu,kebenaran akal adalah bersifat sementara dan akal manusia mudah dipengaruhi oleh nafsu dan persekitaran.
Pendidikan alaf baru di dunia Islam mestilah bersih daripada kesan-kesan peperangan pemikiran ini dari segi sistem dan kandungannya, mahupun perancang dan pendidik yang menggerakkan proses tarbiyyah bagi membina generasi muda yang bakal memimpin masyarakat Islam di masa hadapan. Bahkan para pemikir dan perancang pendidikan, mestilah merancang dan merangka serta mencari jalan-jalan dan kaedah paling berkesan untuk menggagalkan peperangan pemikiran yang dilancarkan oleh penjajah untuk menakluki pemikiran umat supaya tunduk kepada mereka.
Penjajahan fikiran lebih berbahaya daripada penaklukan negara. Ini ialah kerana penaklukan pemikiran itu tidak berakhir dengan pengunduran penjajah daripada sesuatu negara. Meskipun kini, banyak negara Islam yang dijajah telah merdeka, namun mentaliti anak tanah jajahan dan kesan-kesan peperangan fikiran masih lagi kekal dianuti oleh sebahagian besar masyarakat Islam yang terjajah itu. Kesan peperangan pemikiran ini menjadi penghalang besar untuk masyarakat Islam membina falsafah, sistem dan kandungan pendidikan mengikut acuan mereka sendiri. Justeru, masyarakat dan dunia Islam seharusnya, membentuk satu kumpulan pakar dan perancang yang bebas daripada mentaliti anak tanah jajahan bagi merancang pembangunan pendidikan yang eksilen bagi membina generasi ummat di alaf baru. Kumpulan ini mestilah juga bebas daripada kesan-kesan dan elemen kemunduran yang membawa kepada runtuhnya tamadun Islam dan lenyapnya tradisi keilmuan yang membentuk, membina dan mengembangkan tamadun Islam awalan. Kumpulan ini mestilah bebas daripada tasawwur ilmu agama yang disempitkan oleh desakan elemen kemunduran ini, sehingga ilmu agama itu hanya terbatas kepada bacaan ke atas wahyu sahaja, dan mengabaikan bacaan ke atas alam. Ilmu agama itu, kemudiannya, disempitkan lagi oleh elemen kemunduran ini sehingga skopnya menjadi sempit dan pengajian agama tidak lebih daripada hanya mempelajari usuluddin, syariah dan bahasa Arab.


Rumusannya, 

wahyu mempunyai hubungan yang rapat dengan akal, kerana wahyu menjelaskan apa yang tidak dapat dicapai oleh akal seperti alam ghaib. Wahyu merupakan nur dan puncak untuk mencapai hakikat kebenaran.

KEISMPULAN :

WAHYU YANG DIBERIKAN OLEH ALLAH S.W.T YANG DIBERIKAN KEPADA NABI MUHAMMAD S.A.W MELALUI SAMA ADA MELALUI MALAIKAT JIBRIL , MELALUI MIMPI ATAU TERUS DARIPADA ALLAH S.W.T UNTUK DISAMPAIKAN KEPADA UMAT NABI MUHAMMAD S.A.W KERANA PADA ZAMAN ITU BANYAK GOLONGAN YANG SUDAH TERSESAT DAN JUGA ADA JUGA YANG MENENTANG AJARAN NABI MUHAMMAD S.A.W DENGAN HEBATNYA KERANA MEREKA MENGANGGAP YANGA JARAN ATAU AGAMA YANG MEREKA KATA BARU ITU ADALAH SESAT DAN JUGA MERAKA MENYATAKAN BAHAWA AGAMA ISLAM TELAH MELARANG MEREKA MELAKUKAN PERKARA YANG HARAM TERSEBUT SEPERTI MINUM ARAK DAN BERJUDI SERTA MELACURKAN PEREMPUAN ATAU MELACURKAN PEREMPUAN DEMI KEPENTINGAN SENDIRI DAN JUGA MAHU KESERONOKKAN SEJAK ZAMAN NENEK MOYANG MEREKA LAGI PADA KETIKA ITU . DENGAN WAHYU ATAU PETUNJUK YANG DATANG DARI ALLAH S.W.T ITU  LAH NABI MUHAMMAD S.A.W IAITU SEBAGAI UTUSAN ALLAH ADALAH BENAR DAN MEMANG WAJIB DISAMPAIKAN . SELEPAS KEWAFATAN NABI MUHAMMAD S.A.W ITU WAHYU TERSEBUT TELAH DISATUKAN DAN DINAMAKAN AL-QURAN YANG TIDAK BOLEH DISALAHKAN SERTA MAHU MENYERONGKAN ATAU MAHU MENYESATKAN AL QURAN . AL-QURAN ADALAH SATU2NYA KITAB YANG PALING SEMPURNA DAN MEMPUNYAI BANYAK KESAH CERITA2 DAN TAULADAN DAN BOLEH KITA IKUTI DAN AL-QURAN ADALAH KITAB YANG PALING SEMPURNA KERANA DALAM AL-QURAN BOLEH DIGUNAKAN PAKAIKAN OLEH SEMUA UMAT ATAU MANUSIA SEJAGAT . ADA JUGA AGAMA LAIN YANG MERUJUK KEPDA AL-QURAN SEBELUM MEREKA MAHU MEMBUAT AGAMA BARU TETAPI MEREKA MERUJUK UNTUK MELAKUKAN PRKARA KE ARAH YANG TIDAK BAIK DEMI KEPENTINGAN DIRI SENDIRI UNTUK HIDUP SENANG DI DUNIA INI . SEBAB ITULAH AL-QURAN PADA AKHIR ZAMAN INI SANGAN PENTING TETAPI KITA SEBAGAI UMAT ISLAM INILAH YANG LALAI DENGAN KESERONOKKAN DUNIA INI SEHINGGA KITA SANGGUP MENINGGAL SOLAT ATAU MELAMBAT LAMBATKAN SOLAT DEMI PERKARA YANG TIDAK DAPAT APA2 YANG BERMANFAAT .YAHUDI LAKNATTULAH TERSEBUT SANGGUP MELAKUKAN APA SAHAJA DEMI UNTUK MENYESATKAN UMAT ISLAM SEPERTI MENCIPTA ALATAN YANG SANGAT CANGGIH  DAN ADA KAUM YAHUDI DARI PIHAK PEREMPUAN SANGGUP MENGGADAIKAN MARUAH DEMI HENDAK MENJATUHKAN UMAT ISLAM KEPADA PIHAK LELAKI KERANA MEREKA TAHU LELAKI ADA LAH KAUM YANG HEBAT YANG BOLEH MEMBIMBING DAN MEMBAWA PENGARUH ISLAM KE SEMUA ORANG DI ATAS MUKA BUMI INI TIDAK KIRA SAMA ADA KAUM LELAKI MAHUPUN KAUM PEREMPUAN .

RUJUKAN

: INTERNET
: BUKU
: DAN LAIN LAIN